Minggu, 19 April 2015

AHOK LEGALISASIKAN PROSTITUSI ?

Saat Ali Sadikin menjadi Gubernur, tempat pelacuran yang terus menjamur di Jakarta itu kemudian digusur. Semua pelacur dikumpulkan dan kembali dilokalisir di kawasan yang dikenal dengan Kramat Tunggak, Jakarta Utara. Meski sempat mendapat banyak tentangan, toh Ali Sadikin tidak bergeming. Dia mengaku lebih baik melokalisir pelacur agar mudah dibina dari pada melihat pelacur berkeliaran tanpa pengawasan. Seiring berjalannya waktu, lokalisasi Kramat Tunggak semakin menggeliat.Bahkan bisa dibilang mereka mendominasi. Kebanyakan dari mereka berasal dari Pantura seperti Cirebon, Indramayu dan Subang. Kondisi itu membuat nama Kramat Tunggak tenar ke penjuru Asia. Bahkan lokalisasi ini dikenal sebagai tempat prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Pembangunan Jakarta Islamic Centre menjelang akhir ditutupnya Lokres Kramat Tunggak tahun 1999, jumlah wanita tuna susila di Kramat Tunggak telah mencapai 1.615 orang WTS di bawah asuhan 258 orang germo/mucikari. Mereka tinggal di 277 unit bangunan yang memiliki 3.546 kamar. Hal ini menimbulkan masalah baru bagi masyarakat di lingkungan sekitarnya dan sekaligus citra Jakarta. Sehingga muncul desakan dari ulama dan masyarakat agar Panti Sosial Karya Wanita (PKSW) Teratai Harapan Kramat Tunggak ditutup. Desakan diteliti oleh oleh Dinas Sosial bersama Universitas Indonesia untuk mengukur sejauh mana penolakan masyarakat. Dari penelitian tersebut, keluarlah rekomendasi agar Lokres tersebut ditutup. Akhirnya pada tahun 1998 dikeluarkan SK Gubernur KDKI Jakarta No. pembangunan Jakarta Islamic Centre.Setelah dibubarkan oleh Gubernur Sutiyoso, praktik prostitusi justru pindah ke tempat-tempat lain. Mereka membuat komunitas-komunitas kecil dengan tetap menjalankan praktik prostitusi skala kecil. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengatakan pembubaran lokalisasi di Kramat Tunggak belum bisa menyelesaikan persoalan prostitusi di Ibu Kota. “Kita berantas semua (lokalisasi) pun, memangnya bisa dijamin tidak ada pelacur kelas tinggi di hotel-hotel bintang 3 atau bintang 6, di apartemen-apartemen yang sekali berapa puluh juta," Menurut Ahok, lokalisasi prostitusi yang resmi akan memberikan beberapa manfaat. Berbeda ketika membiarkan pelacuran berkembang liar dan tersebar mulai dari kaki lima hingga hotel berbintang, seperti saat ini. (Merdeka.com)"Bikin lokalisasi. Saya dulu ngomong lokalisasi dicerca orang habis. Itu yang saya bilang kalau Anda mau belajar sesuatu itu musti jelas. Ini masalah penegakan hukum," tegasnya di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (17/4).Mantan Bupati Belitung Timur itu pun tak lupa memberi contoh sebuah kisah yang terjadi di jaman Rasulullah saw. Menurut Ahok, salah satu sahabat Nabi Muhammad pernah mengisahkan tentang seorang pelacur yang akhirnya masuk surga karena dia memberikan minuman kepada seekor anjing yang kehausan.Karena iba, sang pelacur memberikan minum melalui sepatunya kepada si anjing. Atas perbuatan sang pelacur yang tulus itu dia dijamin masuk surga."Orang bikin prostitusi. Nabi aja bilang, prostitusi yang baik orang kasih makan anjing bisa masuk surga juga lho. Jadi zaman nabi pun sudah ada prostitusi. Betulkan,"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar